Jumat, 23 Agustus 2019

Kisah Sahabat Nabi Sya’ban



Pada zaman dahulu ada sahabat Nabi Muhammad SAW namanya Sya’ban. Salah satu kebiasaan sahabat ini, sebelum waktu shalat sudah ada di Masjid di pojok Majid duduk I’tikat.

Suatu ketika pada waktu subuh Sya’ban tidak ada di tempat biasa ia I’tikaf, sehingga nabi menunda Iqomat untuk menunggu datangnya Sya’ban. Karene kebiasaan Sya’ban ini selalu ada di Masjid untuk berjamaah dengan Nabi. Karena terlalu lama menunggu, akhirnya nabi memerintahkan salah satu sabahatnya untuk Iqoat.

Selesai shalat subuh, Rasul bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban. Namun tidak ada seorangpun yang menjawab.Rasul bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban. Kali ini sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis dimana rumah Sya’ban.

Rasulullah yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban meminta diantarkan ke rumah Sya’ban. Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud. Rombongan Rasul sampai ke sana saat waktu afdol shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut beliau mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

Benarkan ini rumah Sya’ban? Rasul bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.
“Bolehkan kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di Masjid”.

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban menjawab: “Beliau telah meninggal dunia tadi pagi”

Innalillahi wainna ilaihirojiun… Subhanallah, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya..

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul “Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakannya disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul

Di masing-masing teriakannya dia berucap kalimat:
  1. Aduuuuh kenapa tidak lebih jauh…….
  2.  Aduuuuh kenapa tidak yang baru………
  3.  Aduuuuh kenapa tidak semua…..

Rasulpun melantunkan ayat yang terdapat dalam serat Qaaf (50) ayat 22


Artinya:
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.

Saat Sya’ban dalam sakratul maut… perjalanan hidupnya ditayangkan uang oleh Allah. Bukan Cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat olhe Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain. Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat 
                        
1. Suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk Sholat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya;ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk Surga dan ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap: “Aduuuhh kenapa tidak lebih jauh…..”. Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.
 
2. Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia berangkat Sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah anging dingin yang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambill satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju. Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di Masjid dia bisa membuka baju luar dan Sholat dengan baju yang lebih bagus. Dalam perjalanan ke tengah Masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan. Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju tersebut dan memapahknya untuk bersama-sama ke Masjid melalukan Sholat berjamaah. Sya’ban pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi: “Adddduuuhh kenapa tidak yang baru……………”. Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapatkan pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.
 
3. Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika baru saja hedak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih dari 3 hari perutnya tidak di isi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban merasa iba. Ia kemudaian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama… Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban dengan Surga yang indah. Diapun berteriak lagi: “Aduuuhhh kenapa tidak semua….” Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yang lebih indah.
    Subhanallah Sya’ban bukannye menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal. Sesungguhanya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda beda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konskuensi dari semua perbuatannya di dunia. Wallahu A’lam.

    (Diolah dari berbagai sumber, IMZ)

    Tidak ada komentar:
    Write komentar

    Labels